Avatar
merupakan sebuah science fiction movie mahakarya James Cameron, sebagai salah
satu film terbesar di tahun 2009 yang telah menyabet begitu banyak awards dalam
berbagai kategori termasuk Best Motion Picture – Drama Golden Globe Awards 2010
dan juga sebagai film terlaris sepanjang sejarah. Menyusul kesuksesannya itu,
tahun 2010 ini Avatar kembali hadir di bioskop-bioskop dunia dalam format 3D
dengan delapan menit extended scene yang disebar di beberapa part film.
Avatar
bercerita mengenai sebuah proyek besar peradaban manusia pada tahun 2154 untuk
mendapatkan cadangan energy baru berupa mineral yang disebut unobtanium.
Pencarian unobtanium ini dilakukan di sebuah hutan nan subur bernama Pandora
yang dihuni oleh berbagai macam makhluk hidup termasuk suku Na’vi. Karena di
tempat ini manusia tidak dapat bernafas dan hidup normal layaknya di bumi,
dalam pelaksanaannya, proyek ini menciptakan sebuah replica suku Na’vi yang
bisa dikendalikan dengan pikiran manusia untuk melakukan penelitian tersebut
yang kemudian disebut sebagai avatar.
Proyek ini melibatkan Jake Sully (Sam
Worthington), seorang purnawirawan angkatan laut Amerika yang terluka dan cacat
akibat perang sehingga menyebabkannya tidak bisa berjalan. Namun dengan avatar,
Jake bisa menikmati kehidupannya kembali secara utuh termasuk berjalan pun
berlari. Dan dengan avatar ini pula, selama penelitian Jake harus beurusan
dengan suku asli Pandora, mulai dari semua adat, kebiasaan, peraturan,
bagaimana menjadi seorang Na’vi, termasuk jatuh cinta pada Neytiri (Zoe
Saldana), salah satu dari mereka, hingga harus memutuskan hal yang akan
menentukan nasib Bumi dan suku Na’vi.
Film ini tampil begitu memukau dan sempurna dalam
semua aspek. Mulai dari cerita, cinematography, music scoring hingga pada efek
3D yang disuguhkan. Cerita yang ditawarkan terkesan begitu masuk akal meskipun
berlatar pada masa depan dengan era hi-tech pada semua peralatan dan pola pikir
yang digunakan. Begitu pula pada suku Na’vi, penciptaannya pada setiap tingkah
laku, karakter, hingga peraturan, adat, dan bahasanya mengindikasikan betapa
film ini tercipta dengan kreativitas dan daya imajinasi yang di atas rata-rata.
Selain itu, film ini juga hadir dengan tanpa meninggalkan pesan moral yang
tersirat, mengacu pada isu kemanusiaan dan juga lingkungan.
Dalam film ini juga, penonton akan diajak
berpetualang untuk mengeksplorasi keindahan planet biru Pandora dengan segala
keunikan dan landscape yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya,.
Terlihat pada visual effect yang digunakan pada setiap makhluk hidup penghuni
hutan Pandora, baik pada siang maupun malam hari yang membuat saya benar-benar
berdecak kagum selama menikmati film ini diputar. Cinematography brilian
tersebut semakin lengkap dengan penataan music scoring yang begitu mendukung
suasana keindahan Pandora dan mengiringi setiap scenenya. Semua terasa tepat
pada scene petualangan Jake belajar menjadi bagian dari suku Na’vi, romance dan
drama scene Jake dan Neytiri, pun pada saat scene fight yang cukup membuat
kadar emosi meningkat.
Semua itu menjadi semakin sempurna dengan
penyuguhan efek 3D yang digunakan. Penonton film ini disajikan dengan efek 3D
yang begitu nyata pada setiap scenenya, bukan hanya sekedar 3D pada part
tertentu saja. Penonton seolah berada di Pandora, menikmati setiap keindahannya
yang begitu nyata, dimana bisa menyentuh setiap semak dan tumbuhan yang ada di
depan dan sekeliling mata. Pun pada saat berada di laboratorium RDA Corporation
tempat penelitian ini dikendalikan , hologram system dan kendali yang digunakan
seakan-akan nyata di depan.
Dengan segala kesempurnaan pada setiap elemen
penyusun film yang ditawarkan hingga pada penyajian gambar 3D yang memang
sengaja diambil dengan kamera khusus 3D alih-alih hanya mengkonversi 2D menjadi
bentuk 3D, sepertinya akan begitu susah untuk melewatkan karya menakjubkan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar