SELAMAT DATANG DI WEBSITE KAMI, GABUNG DAN TEMUKAN PENAWARAN MENARIK DIDALAMNYA

Selasa, 27 Maret 2012

Peter Pan 2: Return To Neverland (2002) 2,56GB


UDARA dingin mendera puing-puing sisa Perang Dunia II Kota London. Rasa dingin ini membekukan hati Jane, putri sulung belasan tahun yang diminta ayahnya melindungi ibu dan adik laki-lakinya sepeninggal sang ayah ke garis depan. Ia melakukan hal tersebut dengan baik. Hanya, ada yang luput dari penjagaan Jane: kegembiraannya hilang.
Jane yang getir menjadi pangkal cerita Return to Neverland, kisah sekuel Peter Pan, sebuah karya klasik ciptaan J.M. Barrie. Ia adalah anak perempuan Wendy, yang dulu dibawa Peter Pan berkelana menjelajahi Neverland. Berbeda dengan sang ibu, Jane memilih membuang kesempatan menjadi kanak-kanak. "Dewasalah. Masalah tidak bisa lenyap dengan ketulusan, kepercayaan, dan debu ajaib," teriaknya keras.
Tiga kata tersebut-ketulusan, kepercayaan, dan debu ajaib-merupakan mantra gaib di Neverland. Pulau ini tempat tinggal Peter Pan, peri mungil Tinker Bell, dan Gerombolan Anak Hilang. Tempatnya jauh di angkasa sana, di bintang kedua yang berada tepat di sebelah kanan bintang paling terang di angkasa. Di sana ada laguna tempat para putri duyung mandi, ada gunung batu berbentuk tengkorak, dan ceruk tempat para perompak menambatkan kapal.
Cerita tentang pulau khayal ini di-tulis oleh novelis dan penulis drama kelahiran Skotlandia pada 1860, James Matthew Barrie. Kisah yang lahir pada 1904 ini bertutur soal bocah laki-laki yang enggan menjadi dewasa. Dalam benaknya, ia menciptakan dunianya sendiri yang berisi orang Indian, perompak, dan peri-peri. Karya Barrie kemudian digubah menjadi drama, komedi musikal, film televisi, dan film bisu. Pada 1953, Disney menggarapnya menjadi film animasi yang kemudian menjadi karya klasik.
Tak cuma di layar lebar atau dunia panggung, psikologi populer mengenal apa yang disebut dengan sindrom Peter Pan, yaitu orang dewasa yang memeluk erat-erat masa kecilnya. Michael Jackson menjadi contoh nyata sindrom tersebut: rumah raksasanya disulap menjadi taman raya tempat dirinya main kereta-keretaan.
Lalu apa yang disajikan dalam Peter Pan "bagian kedua" ini? Cerita berlanjut dengan Jane yang dipaksa memercayai dunia khayal. Ia diculik oleh sosok yang selama ini ditampiknya. Kapten Hook, perompak berkumis dipilin dengan kait besi pengganti sebelah tangannya, mengira Jane adalah Wendy. Ia meringkus Jane dengan karung, berharap dapat menukarnya dengan harta karun.
Apa boleh buat, adegan berikutnya yang tampil adalah aneka komedi slapstick para perompak dan kemegahan Neverland. Film ini berusaha menelusuri kembali versi awal yang jaraknya hampir setengah abad. Baik Peter Pan, Tinker Bell, maupun Gerombolan Anak Hilang tak berubah. Mereka hanya bermain dan bersenda gurau. Jane, yang bergabung setelah lolos dari Kapten Hook, terkesiap.
Selanjutnya mudah ditebak. Film keluarga macam ini tentu siap dengan happy ending. Jane berkenalan kembali dengan sisi kanak-kanaknya. Dengan bersatu, mereka berhasil membuat para perompak terbirit-birit. Dengan kocak, film ini menyinggung soal kesetaraan gender. Jane didaulat menjadi the Lost Girl pertama dari Gerombolan Anak Hilang, yang semuanya laki-laki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar